Jumat, 23 Mei 2008

Superman

Superman

‘Key, aku bukan superman yang bisa langsung ada seketika kamu minta. Tapi aku akan selalu berusaha untuk ada kapan pun kamu butuh aku.’
Hmmm… kira-kira begitu lah kata-kata yang pernah ku dengar 2 tahun lalu dari Arya.
Tapi aku merasa dia adalah Superman, karena dia selalu ada disaat aku membutuhkannya. Hadirnya pun juga tidak pernah bisa ditebak, perginya pun begitu. Dia begitu penuh dengan kejutan-kejutan. Senin siang nya dia masih makan siang denganku di Kelapa Gading, malamnya sudah dia sudah ada di Kalimantan. Jum'at sore dia bilang tidak bisa menemaniku ke pesta pernikahan temanku pada sabtu malamnya karena masih di Jambi, tapi sabtu pagi sudah ada didepan pintu rumah dengan pakaian lusuh karena belum mandi lengkap dengan Senyumnya yang khas. Begitulah hari-hari yang kulewati bersamanya.
Pekerjaan sebagai konsultan pertambangan menuntut dia untuk selalu bepergian-pergian dari satu kota ke kota lain dan dia harus siap kapan pun dia dibutuhkan. Tapi anehnya dia selalu punya waktu untuk ku, masih punya waktu untuk membantu ku mengerjakan tugas-tugas kuliah, masih punya waktu untuk memberikan kejutan-kejutan manis. Buat dia jarak sama sekali bukan masalah, dan selalu berusaha membahagiakanku dengan sisa waktu yang dia punya.
Pernah suatu malam kira jam 21.00 dia datang kerumah ku, yang lumayan jauh dari kantornya (Dia masih dikantor saat itu) hanya untuk menyuapiku makan. Karena dia tidak yakin aku akan makan kalau bukan dia yang suapi. Kebetulan saat itu aku memang sedang sakit dan kehilangan selera makan. “aku udah makan kok Ar, kamu ga usah kerumah, langsung pulang aja istirahat kamu pasti capek. Lagian udah malam ga enak sama mama, kalo kamu ‘namu malam-malam begini.” kataku saat itu. aku tidak tega dia pasti capek sekali dan aku memang tidak ingin makan. ‘aku akan izin sama mama. Aku mau ngomong sama mama key, tolong panggilin mama dong’ katanya sedikit memaksa, namun tetap dengan gayanya yang tenang. ‘mau ngomong apa? mama udah tidur… udah deh Ar, percaya sama aku, aku udah makan kok… emangnya aku anak kecil apa, segala-gala harus ditungguin?’ jawabku. Sesaat aku diam berpikir apalagi alasanku untuk mencegah dia bicara sama mama. Tapi tidak lama kemudian telpon terputus dan kudengar Mama sedang menerima telepon dari ponselnya, dan itu ternyata dari Arya. Jarak Mama dan aku hanya sekitar 2 meter jadi aku bisa dengar mama sedang membicarakanku ‘iya, tuh Ar, Kesya dari tadi sore mama suruh makan ga mau terus, padahal mama sudah masakin makanan kesukaan kesya. Mungkin kalo Arya yang suruh, kesya baru mau... Kerumah? boleh aja, tapi apa ga ngerepotin arya’ ‘terimakasih lo Ar’ aku yakin Arya pasti sudah ngomong macam-macam ke mama. Tiga puluh lima menit kemudian Arya tiba dirumahku, terlihat sedikit letih mungkin karena banyak pekerjaan, tapi wajah tampan nya tidak memudar sedikitpun. ‘Sayang, kamu jadi juga dateng?’ sambutku pada Arya yang tiba-tiba sudah ada di ruang kelurga. Arya mengecup keningku dan ikut duduk disampingku. Bias kesabaran terlihat jelas dari wajahnya. ‘aku bawain kamu roti bakar kesukaan kamu nih, kamu makan ya’ dengan sabar dia menyuapiku yang saat itu berubah menjadi gadis kecil berusia 6 tahun, mau tidak mau aku harus menghargai usaha dia. Betapa beruntungnya aku atas cinta dan perhatian yang diberikan Arya padaku.
Arya adalah hal terbaik yang pernah kumiliki dalam hidupku, rasanya tidak akan ada satupun yang bisa mencintaiku seperti Arya mencintaiku.

Sifat posesif Arya tentu saja mengganggu kebebasanku yang sebelumnya independet, tapi lama-lama mulai dapat kuterima sebagai “one package” dari dia. Kebiasaan dia yang suka muncul tiba-tiba di kampus, di boutique tempat aku bekerja paruh waktu, dan dirumah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu melatihku untuk setia dengan dia, walaupun memang tidak ada keinginan untuk mendua. Belum lagi kebiasaan dia untuk menelponku hanya untuk sekedar mendengar suaraku. Tapi justru semua itulah yang aku rindukan saat ini. Rindu merasakan setiap hal yang pernah membuat ku merasa risih dengan Arya. Rindu hal-hal norak yang sering dia lakukan.

Adalah hal yang sangat indah bagiku berusaha menghargai pendapatnya yang terkadang suka berbeda denganku, mengerti keinginannya walaupun dia tidak mengungkapkannya padaku, menyayangi dia dengan sepenuh hati dan lebih daripada itu keinginan untuk menemaninya sampai tua.

‘Key, kamu sudah tahu kalo waktuku udah ga lama lagi dengan kamu, apa yang akan kamu lakukan bila saat itu tiba?’ pertanyaan yang dilontarkanya kepadaku seminggu setelah tahu bahwa sisa waktunya tak akan lama lagi. Tidakkah dia tahu, dunia ku hancur dalam sesaat ketika saat itu tiba? Dan itulah yang terjadi 3 bulan setelahnya. ‘aku akan ikuti tradisi sati’ jawabku singkat tanpa menatap ke arahnya. ‘sati? Ini bukan di India sayang, dan kita belum menikah… ‘ ‘kalau begitu, nikahi aku Ar’ pinta ku saat itu. Aku tahu ini bukannya saat untuk bercanda tapi aku tidak tahu harus menjawab apa dan aku memang tidak main-main dengan ucapanku saat itu. Dia membawaku kedalam peluknya yang hangat. Aku melihat Arya menangis untuk pertama kalinya dan itu membuat hatiku sangat hancur, rasanya ingin kutukar apapun yang aku miliki saat itu untuk menambah waktu Arya agar bisa bertahan lebih lama lagi. ‘Sayang, itu tidak akan merubah segalanya. Aku ingin kamu menjadi wanita yang paling bahagia didunia.’ Dekapannya semakin erat dan aku semakin bisa merasakan kesedihan yang sangat mendalam dihatinya. ‘aku hanya ingin menikah denganmu Ar, kamu harus bertahan sayang, demi aku, demi cita-cita dan impian kita’ aku berusaha menghiburnya semampuku. ‘key, aku mau kamu janji ke aku’ ‘janji, janji apa?’ ‘kamu harus jatuh cinta lagi dengan laki-laki lain.’ itu adalah permintaannya yang tidak pernah aku sangka sebelumnya. Seorang seposesif Arya menyuruhku untuk jatuh cinta lagi dengan laki-laki lain, tentu saja itu suatu hal yang luar biasa dan pasti sangat berat untuknya. ‘maksud kamu apa?’ tanyaku tak mengerti. ‘key, berpikirlah realistis. Aku ga bisa menemanimu lebih lama lagi, kamu harus terima kenyataan itu sayang, jatuh cinta dan menikahlah, carilah laki-laki yang tau bagaimana cara menghormati wanita. Seseorang yang mampu memberikan tempat terhormat dihatinya untuk kamu…’ katanya terputus. ‘seperti yang kamu lakukan ke aku Ar..?’ Aku tahu aku sudah tidak mampu lagi membendung air mataku. Aku cengeng untuk urusan yang satu ini walaupun seharusnya yang aku lakukan adalah berusaha untuk tegar dihadapannya. Jujur saja aku sudah terbiasa membayangkan kelak nama belakang ku ditambah menjadi Kesya Arya Sudiro dan aku sudah terbiasa membayangkan bahwa dialah kelak ayah dari anak-anak ku. ‘aku menyayangimu Ar, melebihi apapun di dunia ini’ Arya tidak mengatakan apapun, dia hanya menciumku dan itu adalah ciuman yang panjang dan hangat yang selalu akan kurindukan selamanya. lalu kami berpelukan seolah tidak ingin terpisahkan lagi.

Arya pergi untuk selamanya 3 bulan kemudian dan kata-kata terkahir yang dia ucapkan adalah ‘Bintangku harus selalu terang, bersinarlah untuk lain hati’. Setelah itu aku tidak pernah lagi mendengar suaranya memanggilku, tidak ada lagi dering handphone yang khusus aku set untuk telphone dari dia, tidak ada lagi orang yang selalu ada untukku, tidak ada lagi orang yang tiba-tiba muncul di depan kampusku, tidak ada lagi orang yang pagi-pagi datang kerumahku untuk ‘numpang sarapan. Superman itu udah pergi selamanya.

Kini setelah 2 tahun kepergiannya, aku masih belum bisa menemukan sosok pengganti dia. Walau rasa sakit itu kini mulai mereda, tapi kenangan tentang itu semua membuat ku enggan untuk mencari penggantinya. Seperti kuat memelukku untuk bertahan dalam masa lalu itu.You are The Superman Arya. Superman pun ternyata manusia biasa yang tidak bisa melawan takdir, dan sayangnya Arya tidak memiliki kekasih seorang “superwoman” yang bisa membantunya .

Untuk sang Jiwa yang pernah mengisi hari-hari indahku.

Py.